
Kurikulum Berbasis Cinta: Guru Didorong Hadir dengan Ilmu, Keteladanan, dan Cinta
- Posted by Syamsul Bahri
- Categories Berita
- Date 5 September 2026
Aceh Besar – Dayah Samudera Pasai Madani Aceh Besar menyelenggarakan kegiatan pelatihan Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah sebagai upaya memperkuat kapasitas guru dalam menghadirkan proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menyentuh hati, membentuk karakter, dan menumbuhkan akhlak peserta didik.
Kegiatan tersebut diikuti oleh para guru dan pendidik di lingkungan Dayah Samudera Pasai Madani. Dalam kegiatan tersebut, pimpinan dayah menekankan pentingnya menjadikan cinta sebagai bagian integral dalam proses pendidikan. Menurutnya, guru tidak cukup hanya mampu menyampaikan materi pembelajaran, tetapi harus mampu membangun hubungan yang positif dengan peserta didik sehingga ilmu yang diberikan dapat diterima dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, pimpinan Dayah Samudera Pasai Madani menyampaikan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), memang memberikan banyak kemudahan bagi dunia pendidikan. Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk menyiapkan materi, mencari referensi, dan mengembangkan berbagai media pembelajaran.
Namun demikian, teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran seorang guru.
“AI dapat membantu guru dalam menyampaikan ilmu, tetapi sentuhan hati seorang guru tidak dapat digantikan oleh teknologi,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Pimpinan dayah juga mengingatkan bahwa hakikat pendidikan bukan sekadar mentransfer knowledge kepada peserta didik. Pendidikan harus mampu menyentuh hati dan membentuk kepribadian. Karena itu, guru dituntut untuk menghadirkan keteladanan, kasih sayang, perhatian, dan pendampingan dalam proses pembelajaran.
Guru Bukan Sekadar Profesi
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E., yang akrab disapa Yahwa, dalam penyampaiannya mengajak para guru untuk kembali memahami hakikat dan jati diri sebagai seorang pendidik.
Menurutnya, menjadi guru bukan semata-mata persoalan pekerjaan. Guru harus memiliki jiwa dan panggilan untuk mendidik. Ketika seseorang memilih profesi guru hanya karena melihat peluang pekerjaan, maka diperlukan proses untuk membangun kembali jiwa keguruannya.
“Menjadi guru tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu pengetahuan. Guru harus mampu mendidik, membimbing, memahami karakter anak, dan menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam proses pendidikan,” pesannya.
Yahwa juga menekankan bahwa seorang guru harus terus belajar. Setelah menjadi guru, proses belajar justru tidak boleh berhenti. Guru harus terus membaca ilmu, membaca keadaan, dan membaca karakter peserta didik.
Hal tersebut penting karena setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Ada peserta didik yang cepat memahami pelajaran, ada pula yang membutuhkan penjelasan berulang. Ada yang lebih mudah belajar melalui membaca, praktik, diskusi, maupun pendekatan secara personal.
Karena itu, guru perlu mengubah cara pandang dari sekadar bertanya “Apa yang harus saya ajarkan?” menjadi “Apa yang dibutuhkan oleh anak ini?”
Menurutnya, kemampuan memahami kebutuhan peserta didik menjadi salah satu ciri penting seorang guru. Guru bukan hanya orang yang berdiri di depan kelas dan menyampaikan informasi, melainkan sosok yang mendampingi pertumbuhan seorang manusia.
Pendidikan yang Menyentuh Hati
Dalam kesempatan tersebut, Yahwa juga mengingatkan kembali keteladanan guru-guru terdahulu yang mengajarkan ilmu dengan penuh keikhlasan. Guru-guru di kampung, misalnya, mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an, mengenal huruf hijaiyah, dan memahami dasar-dasar agama tanpa menjadikan materi sebagai tujuan utama.
Menurutnya, kekuatan pendidikan pada masa lalu salah satunya terletak pada keikhlasan dan kecintaan guru kepada murid.
Ketika seorang guru mencintai peserta didiknya, maka ilmu yang disampaikan akan lebih mudah diterima. Sebaliknya, hubungan yang dipenuhi rasa takut dan kebencian dapat menjadi penghambat proses pembelajaran.
Karena itu, guru diharapkan mampu mencintai seluruh peserta didiknya, bukan hanya mereka yang berprestasi atau mudah diarahkan, tetapi juga anak-anak yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan pendekatan yang lebih khusus.
“Guru harus berusaha mencintai seluruh siswanya,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Cinta dalam pendidikan bukan berarti membiarkan kesalahan peserta didik. Sebaliknya, cinta berarti keberanian untuk menegur, membimbing, dan mengarahkan dengan tujuan agar peserta didik menjadi pribadi yang lebih baik.
Guru sebagai Pengawal Moral Bangsa
Lebih lanjut, Yahwa menegaskan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membentuk masa depan bangsa. Guru tidak hanya bertanggung jawab terhadap aspek akademik, tetapi juga memiliki peran sebagai pengawal moral bangsa.
Peserta didik tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan guru, tetapi juga dari sikap dan perilaku gurunya. Cara guru berbicara, bersikap, menyelesaikan masalah, menghargai orang lain, dan memperlakukan peserta didik akan menjadi bagian dari pembelajaran yang secara tidak langsung mereka serap.
Oleh karena itu, sebelum menuntut peserta didik menjadi pribadi yang baik, guru terlebih dahulu harus berusaha menjadi teladan yang baik.
Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, pendidikan diharapkan tidak hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak, empati, kepedulian, kejujuran, kesabaran, dan kemampuan memberikan manfaat kepada orang lain.
Menghadirkan Guru yang Bermanfaat
Kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi para guru Dayah Samudera Pasai Madani untuk melakukan refleksi terhadap peran dan tanggung jawab mereka sebagai pendidik.
Guru diharapkan tidak hanya hadir secara fisik di dalam kelas, tetapi juga hadir di hati peserta didik.
Kehadiran guru harus memberikan manfaat. Ketika guru masuk ke kelas, peserta didik diharapkan merasakan energi positif, mendapatkan ilmu, memperoleh motivasi, dan menemukan teladan.
Pada akhirnya, pendidikan berbasis cinta mengajak seluruh guru untuk kembali kepada hakikat profesinya: mengajar dengan ilmu, mendidik dengan keteladanan, memahami dengan empati, dan melayani dengan cinta.
Melalui kegiatan ini, Dayah Samudera Pasai Madani berharap nilai-nilai tersebut dapat diterapkan secara nyata dalam proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari di lingkungan dayah, sehingga pendidikan yang berlangsung tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menyentuh hati dan membentuk karakter generasi masa depan.



