
Menjemput Kemuliaan Hidup dengan Menjadi Ahlul Qur’an
- Posted by Syamsul Bahri
- Categories Berita
- Date 27 April 2026
Redaksi Dayah – Suasana khidmat menyelimuti lapangan utama pesantren pada pelaksanaan Apel Senin pagi ini. Dalam amanat yang disampaikan oleh pembina apel, Ustadz Muhammad Yafied, S.Ag., seluruh santri diingatkan kembali mengenai urgensi menyatukan langkah dan hati dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.
Al-Qur’an: Sumber Ketenangan Batin Dalam pesannya, Ustadz Muhammad Yafied menyampaikan bahwa seorang Muslim tidak boleh lepas dari tuntunan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu anugerah terbesar bagi mereka yang disebut sebagai Ahlul Qur’an—yakni orang yang tekun membaca, menghafal, dan mengkaji maknanya—adalah hadirnya sakinah atau ketenangan jiwa. Di tengah hiruk-pikuk tugas dan jadwal, ketenangan inilah yang menjadi kekuatan utama bagi seorang santri.
Kemuliaan yang Menular Materi apel pagi ini juga menekankan bahwa Al-Qur’an adalah sumber kemuliaan. Segala sesuatu yang bersinggungan dengan Al-Qur’an secara otomatis akan diangkat derajatnya:
- Nabi Muhammad SAW menjadi utusan Allah yang paling mulia karena Al-Qur’an diturunkan kepadanya.
- Bulan Ramadan menjadi bulan yang paling utama karena di dalamnya Al-Qur’an diturunkan.
- Bahkan, sepotong kayu rekal (tempat dudukan Al-Qur’an) pun mendapatkan penghormatan khusus. Beliau mengingatkan kebiasaan orang tua kita yang selalu berpesan, “Nak, tolong pindahkan tempat dudukan Al-Qur’an itu, jangan diletakkan sembarangan, kurang sopan.” Jika kayu saja bisa menjadi begitu dihargai karena menyangga mushaf, bayangkan betapa mulianya derajat seorang manusia yang di dalam akal dan hatinya tersimpan ayat-ayat suci.
Langkah Nyata Menuju Hafiz Qur’an Bagi para santri yang sedang berjuang meniti jalan sebagai penghafal Al-Qur’an, Ustadz Muhammad Yafied membagikan lima pilar keberhasilan yang perlu ditanamkan dan diamalkan:
- Tekad yang Kuat: Miliki niat dan mimpi yang besar untuk menjadi penjaga kalamullah.
- Ikhtiar Sungguh-Sungguh: Mimpi tidak akan terwujud tanpa kedisiplinan dan kerja keras dalam muraja’ah.
- Doa yang Tiada Putus: Memohon kemudahan dan keistiqamahan hanya kepada Sang Pemilik Al-Qur’an.
- Ridha Orang Tua: Ingatlah bahwa doa dari orang tua sangat mustajab dan menjadi kunci pembuka pintu-pintu kemudahan dalam menghafal.
- Tawakkal: Serahkan segala hasil akhir kepada Allah SWT setelah ikhtiar maksimal dilakukan.
Sebagai penutup yang menggetarkan hati, Ustadz Muhammad Yafied meninggalkan sebuah pesan bijak bagi seluruh peserta apel:
“Janganlah mencari waktu kosong untuk menghafal Al-Qur’an. Tetapi kosongkanlah waktu khusus untuk menghafal Al-Qur’an.”
Semoga momentum apel Senin ini menjadi pemacu semangat bagi seluruh santri dan asatidz untuk terus istiqamah di jalan dakwah dan Al-Qur’an. Mari kita jadikan hari-hari di pesantren ini sebagai sarana untuk mendidik karakter yang utuh dan semakin dekat dengan sumber kemuliaan tersebut.



